Never-ending story…

ruang-tamu-medium-2

Desainnya mungkin terlihat telah selesai sempurna namun rumah keluarga Leila dan Niels selalu berkembang untuk menciptakan tampilan yang lebih dari karya seni menarik dan barang-barang unik.

 

PROFIL RUMAH

profil-rumah

PEMILIK Leila Brink, yang menjalankan perusahaan karpet Maroko Blue GiGi, bersama pasangannya Niels van Beusichem, seorang investment banker, dan ketiga anak mereka, Don (10 tahun), Cassius (8 tahun), serta Pippa (6 tahun), plus seekor kucing peliharaan bernama Dante.

PROPERTI Sebuah rumah bergaya Victoria di selatan London. Dapur dan ruang makan terletak di lantai bawah, sedangkan ruang resepsi/ruang tamu di lantai dasar. Lantai pertama terdapat suite kamar tidur utama, sementara kamar tidur tamu, kamar tidur Pippa, WC, dan kamar mandi keluarga di lantai dua. Kamar tidur anak laki-laki berada di lantai paling atas.

RUANG TAMU

Leila dan Niels menjadikan seni sebagai focal point di area ini. “Kami suka mengunjungi galeri-galeri dan pameran saat senggang,” jelas Leila. Pintu dobel, di halaman sebelah, memungkinkan cahaya mengalir menuju area masuk rumah.

GET THE LOOK Gambar Harland Miller Penguin Plays dari Other Criteria. Leila melapisi ulang kursi klasik dengan bahan dari Designers Guild; yang dapat dipesan di Lexa Home. Karpet Beni Ouarain dari Blue GiGi. Di halaman sebelah: pintu dobel dari D&R Design. Patung bust dari Jonathan Adler; koleksi Jonathan Adler dapat dipesan di Bika Kemang. Meja sisi Owl dari Graham and Green.

 

Natal datang lebih awal

natal-datang-lebih-awal

di rumah Leila Brink dan Niels van Beusichem yang berada di London. Keduanya lahir dan besar di Belanda sehingga mereka menikmati tradisi bangsa Belanda bersama ketiga anak mereka, dimulai dengan Sinterklaas—Hari Saint Nicholas—pada 5 Desember. “Anak-anak meletakkan sepatu mereka di depan perapian, bersama dengan segelas bir untuk Sinterklaas dan beberapa wortel untuk kudanya,” jelas Leila.

“Esok paginya, mereka turun dan menemukan pepernoten biskuit [berbumbu], marzipan manis, dan cokelat dengan inisial nama masing-masing di sepatu mereka.”

Karena secara tradisi Saint Nicholas datang ke Belanda seminggu sebelum 5 Desember, Leila mengatakan kalau perayaan ini merupakan waktu yang tepat untuk menghiasi rumahnya dengan salju artifisial dan memasang tali-tali pada lampu berwarna, sementara dekorasi buatan anak-anak mengelilingi ruangan sebelum November berakhir. Tahun ini, keluarga ini merencanakan sebuah “giant sleepover” untuk Natal bersama seluruh keluarga mereka yang akan datang dari Belanda. “Ini adalah kali pertama kami memiliki rumah yang ‘layak’, ujar Leila, “jadi akan sangat menyenangkan bila seluruh keluarga berbagi kebersamaan di sini.”

Walaupun pasangan ini pindah ke London 12 tahun lalu, mereka memilih untuk menyewa properti (selama 4 tahun) sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli rumah ini. “Orang-orang cenderung membeli belakangan di Belanda,” jelas Leila. “Ditambah, harganya yang lumayan mahal—kami terus membandingkannya dengan yang mungkin bisa kami dapatkan di Belanda dengan jumlah uang yang sama, jadi ini merupakan keputusan yang sangat besar.”

Namun akhirnya keputusan yang sangat besar inilah yang mereka lakukan. “Kami cinta London dan ingin menetap di sini, jadi kami rasa kami harus memiliki rumah sendiri,” lanjut Leila. Mereka membeli rumah dengan luas yang cukup untuk keluarga, rumah lima lantai di selatan London yang rindang berkat jarak yang cukup dekat dengan ruang hijau dan sekolah anak-anak. “Rumah ini telah direnovasi oleh developer dengan sentuhan warna pastel,” jelas Leila.

Meski secara struktur sudah selesai, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mengubah apa yang Leila deskripsikan sebagai “campuran kreatif yang unik”, termasuk pintu dengan warna hijau mint. Mereka mengecat dinding rumah dengan warna putih, membangun ruang ekstensi untuk memperbesar bagian depan lantai bawah untuk dapur dan ruang makan yang lebih leluasa dengan area TV yang mendapatkan pemandangan ke taman. Mereka juga menambahkan jendela besar dari langit-langit hingga lantai di ruang tamu lantai dasar untuk memberikan cahaya yang lebih dan memasang dapur serta kamar mandi baru.

“Kami mengerjakannya pelan-pelan, mengawalinya dengan kanvas kosong berwarna putih,” kenang Leila. “Sering kali saya menambahkan beberapa warna namun menggantinya lagi karena saya menyukai ketenangan yang diciptakan oleh warna putih ini.” Leila mengatakan rumah ini mengombinasikan kecintaannya akan warna serta furnitur klasik, seperti barang-barang dari abad pertengahan yang ia temukan di 1stdibs, dengan cita rasa Neils akan desain minimalis kontemporer, juga kecintaan mereka terhadap karya seni. “Ini bukanlah rumah yang penuh keserasian,” ungkap Leila. “Ini adalah hunian yang mencampurkan berbagai barang yang kami suka, meletakkannya bersamaan di waktu-waktu berbeda.”

Desain indah, klasik, dan tak biasa dapat ditemukan di setiap sudut rumah. Lalu dari manakah ide desain Leila ini berasal? Bukan dari pelatihan formal—karier bisnisnya di bidang ekonomi menuntunnya dalam bidang marketing—namun tampaknya bakatnya ini berasal dari kedua orangtuanya. “Ayah saya seorang seniman, sedangkan ibu saya bekerja di studio fotografi, dan saya tumbuh besar dikelilingi hal-hal penting dalam karier saya,” jelasnya. “Daripada memulainya dengan rancangan desain besar-besaran, ide desainnya lebih membiarkannya berkembang secara organik. Dan dari cara itu, saya merasa lebih nyaman dengan barang-barang yang saya suka berada di sekitar saya.”

Selera Leila akan barang-barang unik berlanjut pada karpet-karpet Maroko antiknya, yang tersebar di seluruh rumah dan juga fokus pada bisnisnya di Blue GiGi. “Setiap karpet ini unik dan menceritakan kisahnya sendiri,” jelas Leila, yang menunjukkan karpet wol tebal dari desain tradisional Beni Ouarain dan boucharouites penuh warna yang dibuat dari pakaian bekas termasuk djellabas (jubah Arab) klasik. “Koleksi ini selalu berganti dan pergantian ini amat penting. Saya menyukai ide individualitas dalam bisnis saya, seperti yang saya lakukan di rumah ini.”

Temukan koleksi karpet Leila di bluegigi.com

 

RUANG TAMU

ruang-tamu

Untuk menambahkan karakter dan cahaya yang lebih pada ruang, pasangan ini mengganti daun jendela di bagian depan rumah dengan desain jendela floor-to-ceiling. Mereka menginginkan bingkai dari baja tapi badan konservasi lokal memiliki peraturan larangan untuk memasangnya sehingga ide brilian mereka adalah mengecatnya dengan warna kayu.

GET THE LOOK Sofa dari Designers Guild. Meja sisi Jolly Supplement karya Paolo Rizzatto untuk Kartell; temukan koleksi Kartell di Decorous. Kursi anyam merupakan furnitur vintage. Meja kopi Tulip karya Eero Saarinen untuk Knoll dan vas putih tinggi Legume karya Jonathan Adler. Karpet Sellarsbrook Yellow karya Suzanne Sharp untuk The Rug Company.

 

“Kami menyukai desain abad pertengahan karena desainnya yang cerah dan sederhana”

 

DAPUR

dapur

Meja makan ini menangkap cahaya mentari pagi, menjadikannya tempat favorit Leila bekerja dengan laptopnya. Bench berfungsi sekaligus sebagai tempat penyimpanan; lantai beton poles dipilih karena tampilannya yang indah.

 

 

 

 

GET THE LOOK Meja island Bulthaup Burnt Oak dengan atasan marmer Carrara dari Kitchen Architecture. Bench dibuat oleh tukang kayu lokal dengan bantal yang dilapisi bahan dari Designers Guild. Meja Trisse dari Nanna Ditzel di Sigmar  London.

Fotografi – Paul Craig
Produksi – Mary Weaver
Teks – Amelia Thorpe
Alih Bahasa – Arisa Imandari